-
BAYT
DAIE INTERNET
WAKTU SOLAT
FACEBOOK

2 June 2016

Guru pembina Harapan Bangsa 2016


 





Sedikit sedutan gambar yang diambil bersempena dengan HARI GURU 2016 yang bertemakan 

ARABIC.Pertama dan selamanya marilah kita merafa'kan rasa kesyukuran di atas kurniaan Allah 

S.W.T kerana pada tahun ini kita berkesempatan lagi untuk menyambut guru guru yang kita sayangi.


Guru guruku semua , 
Kau mendidik kami tiada pilih kasihnya,
Kau mendidik kami dengan penuh kesabarannya,
Kau mendidik kami dengan penuh ketekalannya,
Kami murid ini alpa dengan kehidupan dunia sewaktu remaja,
Tetapi kau pimpin kami semula.
Ke jalan yang diredai-Nya.
Terima kasih buat guruku yang tercinta.
Titipkanlah doa mu kepada kami ini yang alpa,
Agar menjadi inssan yang berjaya,

In Shaa ALLAH. 



15 January 2016

IMARAH MASJID DENGAN AKHLAK TERPUJI

Masjid memiliki kedudukan yang sangat mulia di dalam Islam dan di mata para pemeluknya. Ia adalah tempat bersatunya jiwa-jiwa kaum mukminin dalam mendekatkan diri kepada Allah dan wadah untuk berkumpulnya jasmani mereka agar saling mempererat tali persaudaraan serta bertukar manfaat dan informasi. Di dalam masjid pula, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik para sahabatnya di atas agama ini. Dari masjid beliau muncul generasi umat Islam pertama yang menYebarkan cahaya ke seluruh penjuru bumi. Kerana itu, masjid Nabi di Madinah bisa dikatakan sebagai universiti Islam pertama, dengan guru besarnya adalah Rasulullah dan para sahabat sebagai mahasiswanya. Masjid mempunyai sejarah panjang yang mampu menetaskan para ulama dan da’i yang handal keilmuannya serta mampu memberikan kontribusi yang besar bagi umat.
Kerana masjid adalah sarana vital untuk membentuk karakteristik umat dan syiar Islam yang menonjol, maka sesampainya di Madinah ketika berhijrah, yang dilakukan oleh Rasulullah pertama kali adalah membangun masjid bersama para sahabat. Setelah berdiri tegak masjid tersebut dengan segala kesederhanaan yang ada, masjid beliau tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan dan ritual keagamaan. Bahkan, dari sanalah Rasulullah mengatur urusan kenegaraan, menentukan strategi perang dan mengirim pasukan, mengubati orang yang sakit, serta menyambut delegasi asing.

Intinya, masjid adalah syiar Islam yang besar dan mempunyai peranan yang sangat strategik demi tercapainya kemuliaan Islam dan muslimin. Umat Islam sentiasa mulia manakala kembali memakmurkan masjid seperti halnya generasi awal umat ini. Kerana sedemikian besar kedudukan masjid, maka ada beberapa adab/sopan santun yang ditentukan oleh agama ketika seorang berada di dalamnya. Siapa saja yang mengagungkan syiar Allah Subhanahu wata’ala, maka itu pertanda ketakwaan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al- Hajj: 32)

Adab Seorang Muslim di Dalam Masjid

Ketika seorang muslim hendak masuk masjid, dia mendahulukan kaki kanan seraya mengucapkan salam atau shalawat atas Nabi lalu membaca doa yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti doa,
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
“Ya Allah, bukakan bagiku pintupintu rahmat-Mu.”
Apabila hendak keluar masjid, didahulukan kaki kiri lalu membaca salam atau selawat atas Nabi dan doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan-Mu/ tambahan nikmat-Mu.”
Doa di atas sangat tepat. Kala seseorang hendak masuk masjid, ia memohon rahmat Allah Subhanahu wata’ala karena akan menyibukkan diri dengan ibadah yang mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wata’ala, pahala dan surga-Nya. Ketika akan keluar, dia memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala tambahan rezeki-Nya karena dia akan menjalani aktiviti duniawi. (lihatFaidhul Qadir 1/432) Jika seseorang telah masuk masjid, disyariatkan baginya shalat dua rakaat tahiyyatul masjid sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
إِذَا دَخَلَ أَحَدُ كُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ
“Apabila salah seorang di antara kalian masuk masjid, hendaknya ia solat dua rakaat sebelum duduk.” (HR. al- Bukhari no. 444)

Yang diinginkan dari hadits ini adalah orang yang masuk masjid agar tidak duduk sampai ia shalat terlebih dahulu. Jadi, apabila ia masuk masjid lalu shalat sunnah qabliyah atau shalat wajib yang akan dia lakukan, hal itu telah mencukupinya sehingga tidak perlu shalat tahiyyatul masjid. Demikian pula apabila ia masuk dalam kondisi iqamat telah dikumandangkan, shalat fardhu yang ada telah mencukupinya dari shalat tahiyyatul masjid. (lihat Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 7/270)

Apabila telah berada di masjid, hendaknya dia menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah yang disyariatkan, seperti zikir, membaca al-Qur’an, mempelajari ilmu, dan yang lainnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika menasihati seorang badui yang kencing di masjid, “Sesungguhnya masjidmasjid ini tidak boleh dikencingi dan dikotori. Ia tidak lain (tempat) untuk berzikir kepada AllahSubhanahu wata’ala, shalat, dan membaca al-Qur’an.” (Shahih Muslim no. 285 dari Anas bin Malikradhiyallahu ‘anhu)
Orang yang duduk menanti dikumandangkan iqamat alangkah bagusnya apabila dia berdoa karena saat itu adalah waktu yang mustajab. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الدُّعَاءُ ل يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

“Doa antara azan dan iqamat tidak ditolak (oleh Allah Subhanahu wata’ala).” (Shahih Sunan at-Tirmidzi 1/133 no. 212)

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوْا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوْا
Andai manusia tahu apa yang ada pada azan dan shaf awal (yakni keutamaannya), lalu mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan undian, niscaya mereka akan berundi untuknya.”(Muttafaqun ‘alaih)

Orang yang berusaha mengisi sah- saf terdepan menunjukkan bahwa dia bersemangat meraih keutamaan. Akan tetapi, caranya tidak seperti yang dilakukan sebagian orang: sengaja meletakkan sejadahnya di saf awal, lalu keluar dari masjid dan sibuk dengan aktiviti dunia; ketika telah datang waktu solat ia pun datang untuk menempati saf tersebut. Hal ini tidak diperbolehkan, sebagaimana disebutkan oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa-nya. Sebab, tempat yang ada di masjid tidaklah dimiliki oleh siapa pun secara khusus. Yang diinginkan adalah seseorang datang lebih awal dan menempati saf awal, bukan sejadahnya (wallahu a’lam).

Di antara hal yang juga perlu diperhatikan oleh orang yang berada dalam masjid ialah apabila azan sudah dikumandangkan di masjid tersebut, janganlah ia keluar kecuali ada keperluan yang ia akan kembali lagi ke masjid itu, seperti mengambil air wudhu, mengganti pakaiannya yang terkena najis, dan semisalnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Barang siapa yang azan telah mendapatkannya di masjid kemudian ia keluar, ia tidak keluar karena suatu keperluan, yang ia tidak ingin kembali (ke masjid) maka dia munafik.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 606)
Abdurrahman bin Harmalah rahimahullah berkata, “Seorang lelaki datang kepada Sa’id bin al-Musayyib t untuk mengucapkan salam perpisahan ketika mahu haji atau umrah. Sa’id berkata kepadanya, ‘Engkau jangan pergi dahulu sebelum solat, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidaklah keluar dari masjid setelah azan dikumandangkan selain orang munafik, kecuali seseorang yang keluar kerana suatu keperluan dan ia ingin kembali lagi ke masjid.’ Lelaki tersebut berkata, ‘Sesungguhnya rakan-rakan  saya ada di Harrah (tempat yang tanahnya berbatu hitam di Madinah).’ Orang itu (tetap) pergi.” Abdurrahman bin Harmalah rahimahullah berkata, “Sa’id pun bertanya dan mencari berita orang tersebut, sampai dia diberi tahu bahawa orang tersebut terjatuh dari kenderaannya hingga retak pahanya.” (Sunan ad-Darimi 1/125 no. 452)

Tidak Mengganggu Orang yang Shalat atau yang Sedang Menjalankan Ketaatan Lainnya
Orang yang sedang menjalankan ibadah di dalam masjid membutuhkan ketenangan sehingga dilarang mengganggu kekhusyukan mereka, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Di antara bentuknya adalah:
1. Melangkahi pundak-pundak mereka untuk mendapatkan shaf depan, padahal shaf telah rapat.

Bentuk lainnya, dia menggeser-geser tempat duduk saudaranya yang telah sempit sehingga ia merampas sebagian tempat duduk saudaranya. Sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa dahulu ada seorang lelaki masuk ke masjid pada hari Jum’at dan Nabi sedang menyampaikan khutbahnya. Orang tersebut melangkahi para manusia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata kepadanya, “Duduklah kamu! Kamu telah menyakiti dan telah terlambat datang.” (Shahih Sunan IbniMajah no. 923)

2. Menyuruh seorang yang duduk untuk berdiri lalu dia menempati tempat tersebut.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang ertinya), “Janganlah salah seorang dari kalian menyuruh orang lain untuk berdiri dari tempat duduknya lalu ia duduk padanya. Namun, berilah kelapangan!” (Muttafaqun ‘alaih)

Seorang muslim hendaknya menjaga perasaan orang lain dan tidak menyakitinya. Dalam hadits di atas juga ada perintah untuk melapangkan tempat duduk bagi saudaranya yang baru datang sehingga bisa mendapatkan tempat duduk. Tidak pantas seorang muslim rakus dengan tempat duduk dengan mengambil tempat yang melebihi kebutuhannya sehingga menghalangi orang lain mendapatkannya.

3. Bising membuat gaduh di dalam masjid
Sebab, masjid dibangun bukan untuk ini. Demikian pula mengganggu dengan obrolan yang keras. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Ketahuilah bahwa setiap kalian sedang bermunajat (berbisikbisik) dengan Rabbnya. Maka dari itu, janganlah sebagian kalian menyakiti yang lain dan janganlah mengeraskan bacaan atas yang lain.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim, asy-Syaikh al-Albani menyatakannya sahih dalam Shahih al-Jami’)

Apabila mengeraskan bacaan al-Qur’an saja dilarang jika memang mengganggu orang lain yang sedang melakukan ibadah, lantas bagaimana kiranya jika mengganggu dengan suarasuara gaduh yang tidak bermanfaat?! Sungguh, di antara fenomena yang menyedihkan, sebagian orang—terutama anak-anak muda—tidak merasa salah membuat kegaduhan di masjid saat shalat berjamaah sedang berlangsung. Mereka asyik dengan perbuatan yang tiada manfaatnya.

4. Apabila Anda masuk masjid membawa senjata, pastikan bahwa Anda telah menutup bagian yang tajam, runcing, atau yang berbahaya, sehingga aman dan tidak melukai orang lain

Sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada seorang lelaki masuk masjid dengan membawa anak panah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memerintahkan orang tersebut untuk memegang bahagian yang runcing dari anak panah itu.” (lihat Shahih al- Bukhari no. 451)

Membersihkan Masjid dari Kotoran
Masjid sebagai tempat yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala di muka bumi ini harus kita jaga kebersihannya. Oleh karena itu, dilarang meludah dan mengeluarkan dahak dan membuangnya di dalam masjid, kecuali meludah di sapu tangan atau pakaiannya. Adapun di lantai masjid atau temboknya, hal ini dilarang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيْئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا
“Meludah di masjid adalah suatu dosa, dan kafarat (untuk diampuninya) adalah dengan menimbun ludah tersebut.” (Shahih al-Bukhari no. 40)

Yang dimaksud menimbun ludah di sini adalah apabila lantai masjid itu dari tanah, pasir, atau semisalnya. Adapun jika lantai masjid itu berupa simen atau kapur, maka ia meludah di kainnya, tangannya, atau yang lain. (lihat ucapan al-Imam an-Nawawi t seputar masalah ini dalam kitabnyaRiyadhush Shalihin bab “an-Nahyu ‘anil Bushaq fil Masjid”)
Apabila seseorang melihat di dalam masjid atau pada dindingnya ada dahak atau semisalnya, hendaknya dia membersihkannya. Sebab, dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat dahak yang melekat pada dinding masjid lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil batu kerikil untuk mengeriknya. (lihat Shahih al-Bukhari no. 408 dan 409)

Menjauhkan Masjid dari Bau yang Tidak Sedap
Apabila seseorang memakan makanan yang menimbulkan bau tidak sedap dan bisa mengganggu orang yang sedang beribadah di masjid maka ia dilarang masuk ke masjid. Contohnya, seseorang memakan bawang merah atau bawang putih yang masih mentah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,
مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ الثُّوْمِ وَالْبَصَلِ وَالْكُرَّاثِ، فَلَا يَقْرَبَنَّا فِي مَسَاجِدِنَا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُوْ آدَمَ
“Barang siapa memakan sayuran ini: bawang putih, bawang merah, dan seledri, janganlah mendekati kami di masjid-masjid kami. Sebab, para malaikat terganggu dengan sesuatu yang mengganggu manusia.” (HR. Muslim)
Apabila seseorang dilarang masuk masjid karena mengonsumsi sesuatu yang baunya tidak sedap seperti bawang mentah, padahal bawang itu halal, lantas bagaimana halnya dengan orang yang mengisap rokok di masjid?

Beberapa Adab Lain di Dalam Masjid

1. Dilarang bermain-main di masjid selain permainan yang mengandung bentuk melatih ketangkasan dalam perang.
Hal ini sebagaimana dahulu orang orang Habsyah bermain perang perangan di masjid dan tidak dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. (lihat Shahih al-Bukhari no. 454)

2. Dibolehkan tidur di masjid.
Sebab, dahulu di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagian sahabat tidur di masjid, misalnya Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, dan yang lainnya .

3. Dibolehkan makan di masjid dengan memerhatikan adab-adabnya dan tidak mengotori masjid.

4. Diharamkan lewat di depan orang yang solat, yakni antara orang yang shalat dan sutrah (pembatas) yang di hadapannya. (lihat Shahih al-Bukhari no. 510)

5. Apabila Anda solat menghadap sutrah lalu ada orang ingin melewatinya, hendaknya ia dicegah. Apabila dia tetap memaksa untuk melewatinya, boleh didorong. (lihat Shahih al-Bukhari no.
509)

6. Tidak solat di antara dua tiang saat solat berjamaah kerana tiang tiang itu memutus saf (barisan) solat, sedangkan merapikan saf adalah perkara yang diperintahkan.
Adapun apabila solat sunnah sendirian, boleh baginya solat di antara dua tiang sebagaimana dahulu Nabi n shalat sunnah di dalam Ka’bah berdiri di antara dua tiang. (lihat Shahih al- Bukhari no. 505)

Demikianlah sebagian adab yang semestinya diperhatikan oleh seorang muslim ketika berada dalam masjid. Kami mengajak para pembaca untuk menelaah kitab-kitab hadits yang berkaitan dengan adab-adab dalam masjid. Ada sebuah kitab bagus yang ditulis oleh al-Imam az-Zarkasyi asy-Syafi’i yang berkaitan dengan hukum-hukum masjid dengan judul I’lamus Sajid bi Ahkamil Masajid. Demikianlah, semoga ulasan singkat ini bermanfaat.
Wallahu ta’ala a’lam bish sowab.
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

19 October 2015

Penambahan Banner Ilmi


Pihak pengurusan surau berjaya meningkatkan pengusaan ilmu dengan cara meletakkan banner-banner ilmu seperti perbezaan rukun solat menurut 4 mazhab, sirah Sahabat Rasulullah SAW , dan lain-lain.
Terima kasih kepada penyumbang yang telah menjayakan projek banner ini. Semoga ilmu yang dikongsi di banner-banner itu bermanfaat untuj semua.

26 September 2015

Projek Menaik Taraf Lanskap Luar Surau (II)

Alhamdulillah, berkat usaha dan penantian yang lama, siap jua laluan ke surau yang mencantikkan pemandangan lanskap luar surau. Terima kasih kepada sesiapa yang telah menolong dalam menyiapkan projek laluan ke surau ini secara langsung atau tidak langsung. Sebarang cadangan atau penambahbaikan yang ingin dikongsi boleh la berhubung dengan page facebook kami Surau Al-Ittihad SAM10 SKK

14 August 2015

Projek Menaik Taraf Galeri Mekah

Pelaksanaan haji di Mekah Al-Mukarramah merupakan satu kewajiban seorang muslim yang berkemampuan. Bagi meningkatkan pengetahuan mengenai Mekah Al- Mukarramah, pihak pengurusan Surau Al-Ittihad telah menaik taraf galeri Mekah yg dulunya hanya memempunyai replika Kaabah sahaja kini tampak lebih indah dengan adanya replika tempat- tempat yg berhampiran dengannya.



Semoga segala usaha yang dilakukan untuk mengimarahkan Surau Al-Ittihad dibalas oleh Allah dengan ganjaran yang setimpal serta dihargai oleh semua warga SAM Hulu Langat dan seluruh Umat Islam yang telah atau akan datang ke surau ini.

7 August 2015

Projek Menaik Taraf Lanskap Luar Surau (I)

Pihak pengurusan surau telah merancang beberapa projek untuk mencantikkan lanskap luar surau. Antaranya projek laluan ke surau yang telah bermula 6 Ogos 2015 lalu.
Jalan menuju ke Surau


Projek seterusnya adalah wakaf atau pondok untuk berehat sebentar bagi lelaki dan perempuan:

Wakaf untuk berehat


Pihak surau mengalu-alukan sebarang cadangan serta sumbangan bagi menyiapkan projek-projek ini dan yang akan datang di laman page facebook kami Surau Al-Ittihad SAM10 SKK.

1 August 2015

Pemantauan Surau Imarah 2015

Alhamdulillah pada 29hb Julai 2015 bersamaan 13 Syawal 1436 H, Surau Al-Ittihad SAM Hulu Langat telah dicalonkan bagi Pemantauan Surau Imarah peringkat Negeri Selangor oleh barisan pemantau Jabatan Pendidikan Selangor (JPS).







"Majulah Surau Al-Ittihad untuk ummah!"